Minggu, 17 Desember 2017 pukul 23.26 WIB di Sleman, kuputuskan untuk mengisi blog ini kembali. Oke santai aja, jadi sebenarnya udah ada niat untuk menuliskan cerita-cerita yang aku dapat ketika lulus SMA dan menjadi mahasiswa baru (itu tahun 2016) hingga akhirnya yang tersisa tinggal kebingungan-kebingungan starting point tulisanku. Minat menulisku memang bisa diakui kurang, karena buku diary pun aku ngga punya guys. Kupikir membuat caption setiap post atau upload di media sosial itu udah cukup, tapi ternyata buku diary itu penting.
Beberapa menit sebelum aku menulis ini, aku baru menyadari ternyata usia yang udah aku jalani adalah 19 tahun lamanya, it means tahun depan udah 20 tahun hidup aku T.T sekarang aku menjadi mahasiswa aktif semester tiga di suatu perguruan tinggi negeri yang bahkan kalau sesaat aku sendirian dalam diam, aku masih ngga menyangka aku ada disini karena jaman-jaman sekolah itu aku ngga bener-bener menggali tiap perguruan tinggi, yang aku ketahui hanya bagian perifernya aja, ditambah aku hanya punya satu tujuan program studi, yang artinya aku hanya menjadi perguruan tinggi "yang penting" ada program studi itu disusul dengan mencari beberapa perguruan tinggi yang aku ketahui. Satu nama perguruan tinggi yang namanya sangat besar hanya menjadi targetku saat itu (SMA) lalu mencari beberapa perguruan tinggi yang tidak jauh dari daerah asalku yang memiliki program studi tujuanku.
Ketika SMP aku benar-benar ngga tau kemana arahku, "selesaikan jenjang SMP terus masuk SMA", sesimpel itu. Mimpi yang "waton" (asal) ini dimulai ketika masa orientasi peserta didik baru. Perlengkapan yang harus kami miliki di antaranya adalah tanda pengenal (yang dibuat sedemikian rupa desainnya dan dikalungkan) dan buku catatan yang akan digunakan selama masa orientasi. Dalam dua atribut tersebut, terdapat isian "cita-cita", aku tidak ingat bagaimana aku bisa menuliskan profesi tersebut (re: perawat), aku pun tidak ingat apa cita-cita yang kutulis ketika SMP dulu.
(( Menurutku itu sangat random ketika kamu menuliskan cita-cita tanpa tau seluk beluk profesi tersebut, means like childhood era tapi posisi kamu udah menuju SMA. Ketika masih kecil, seperti anak-anak pada umumnya, cita-citaku berubah seiring dengan semakin luasnya kesukaanku di era itu dan semakin banyak profesi yang diketahui, jujur ini yang aku ingat pernah menjadi profesi impianku: guru, desainer, arsitek, polisi, bahkan pemadam kebakaran guys. Semakin aku terpapar pengetahuan aku mulai sadar kalau "ini ngga cocok". ))
Di masa peralihan SMP ke SMA ini aku benar-benar tidak tau perawat itu seperti apa sebenarnya, mataku baru terbuka mengenai profesi perawat bahkan di bangku kuliah (dan itu keren guys!). Walau begitu, aku tetap memegang cita-cita ini dari kelas sepuluh, sebelas, hingga kelas dua belas. Ada satu momen yang aku masih ingat ialah salah satu guru menanyakan cita-cita yang otomatis kujawab perawat kemudian guru tersebut mengatakan "kenapa tidak bidan saja?" dan seterusnya tapi dengan mantap aku tidak berminat menjadi bidan (maaf untuk rekan-rekan calon bidan, tapi mungkin kita akan bekerja sama kelak).
Sebelum masuk ke dunia daftar-mendaftar aku akan menjelaskan beberapa hal.
SMA : Kurikulum 2013
Kelas sepuluh : MIPA + Geografi, Ekonomi, Sosiologi
Kelas sebelas-dua belas : pilih Geografi
Pengalaman organisasi: PMR semata.
Di masa pemilihan mapel lintas minat (sepuluh ke sebelas) itulah aku bertanya pada ibu, dan jawaban dari ibu berbeda dengan minatku, katanya: kalau mau jadi perawat pilih Sosiologi, tapi berujung pada pilihanku Geografi. (Setelah kuliah aku menyadari, ada bagian di Geografi yang menyangkut di keperawatan, yaitu bagian demografi dan semacamnya, hehe.. hikmah : TIDAK ADA ILMU YANG SIA-SIA). Kenapa Geografi? Sebenarnya aku ngga jelek-jelek amat kalau mau belajar Ekonomi dan Sosiologi, tapi ada satu titik dimana aku ngerasa ngga cocok dengan keduanya (maaf bagi temen-temen Ekonomi dan Sosiologi).
Kelas dua belas semester akhir inilah puncak kegentingan hidup (kala itu) karena selama jenjang sekolah aku tidak pernah merasa setakut ini. Aku takut karena kupikir kita akan menghadapi kehidupan yang sebenarnya,yang paling aku cemaskan adalah bagaimana kelanjutan studiku, hingga pikiran-pikiran buruk terkadang lewat. Menyiapkan ujian nasional, ujian sekolah, seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), dan seleksi-seleksi perguruan tinggi yang lainnya dan sekolah kedinasan menghiasi akhir cerita SMA kami.
Sistem SNMPTN kala itu memiliki penyaringan 75% siswa bisa mendaftarkan dirinya ke perguruan tinggi negeri (yang ditandai dengan siswa tersebut dapat login ke situs), syukur alhamdulillah bisa login, langsung deh cari tips and trick lolos SNMPTN, dan syalala. Ya, fix dua pilihan terisi (dua PTN dengan prodi yang sama, haha) yang tersisa hanya usaha dengan doa, doa siapapun dan kapanpun. Oh iya, sahabatku juga mendaftar dan kami saling mendoakan, insyaa Allah. Setelah pendaftaran dan segala macamnya, try out try out ujian juga kami lahap. Dan baam! tragedi menimpaku, ada apa lagi ini... dan syalala keadaanku pulih. Ujian nasional lancar dengan segala bumbu keluhan soalnya sulit dan lain-lain. Setelah UN inilah kami mulai belajar SBMPTN. Pertimbangan berdatangan tentang apakah aku harus daftar kesana? Bolehkah jika aku masuk kesitu?
Dan boom! Aku mendaftar di satu perguruan tinggi swasta dengan satu program studi pilihan, haha aku benar-benar ngga tau harus milih apa lagi. Kemudian di satu sekolah kedinasan yang itu sangat berbeda jalurnya, sempat menolak, karena di SMA aja cuma setahun dapat pelajarannya, ngga milih jadi mapel lintas karena merasa ngga pas, takutnya kalau sekolah disana aku jadi susah nangkep materi, ketakutan yang besar sebenarnya, tapi pada akhirnya realistis dan mencoba. Selama proses pendaftaran ini ada saja yang kurang yang pada akhirnya dilengkapi.
Satu pengumuman keras di suatu hari, bang! lolos diterima di perguruan tinggi swasta, melengkapi persyaratan daftar ulang, dan syalala. Hingga akhirnya di suatu siang di bulan Mei, membuatku menangis karena kaget sekaligus bahagia, alhamdulillah lolos SNMPTN. Aku lupa gimana urutannya guys, pada akhirnya aku nggak ikut tes tertulis di sekolah kedinasan, ini reaksi temanku, "bagus lis, mengurangi pesaing" Yaa Rabbi :") Otomatis pendaftaranku di perguruan tinggi swasta tersebut dibatalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar