Pagi begitu cerah, tapi wajah Toni tidak secerah langit pagi. Iya, lagi-lagi Toni tidak mengerjakan tugas dari sekolah, biasa disebut PR. Kini dia tidak mengerjakan PR IPA. Dia tidak mengerjakan PR karena kebiasaannya main game komputer di rumah dan ber-internet hingga malam hari. Dia baru ingat ada PR saat dia baru bangun tidur dan melihat buku IPA di mejanya. Dari rumah sampai sekolah, wajahnya menggambarkan kegelisahan. Dia berangkat sekolah naik mobil diantar ayahnya yang kebetulan arah kantornya searah dengan arah sekolah Toni.
"Ayo, Yah. Toni udah siap berangkat sekolah," kata Toni pada ayahnya, dia mengatakan begitu meski sebenarnya dia belum siap berangkat sekolah.
"Oke, tunggu, ayah pakai sepatu dulu," jawab ayah Toni.
Toni dan ayahnya sudah berangkat. Di mobil, wajah Toni semakin gelisah. Tanpa sadar, Toni membayangkan kejadian di sekolah bila dia tidak mengerjakan PR. Pasti dia akan dihukum. Itu sudah kebiasaan guru IPA di kelas Toni. Setiap ada siswa yang tidak mengerjakan PR pasti akan dihukum.
Ternyata bayangan Toni benar. Guru IPA-nya masuk kelas seperti biasa dan mengetahui Toni yang tidak mengerjakan PR.
"Hai, Toni. Kenapa kamu diam saja, wajah kamu terlihat pucat ?" tanya Bu Dewi.
Teman Toni yang mengetahui bahwa Toni tidak mengerjakan PR langsung berbicara pada Bu Dewi,
"Toni tidak mengerjakan PR, Bu." kata Dica, teman Toni.
"Oh, jadi kamu tidak mengerjakan PR ?" tanya Bu Dewi.
"I...i...iya, Bu. Maaf. Saya lupa." kata Toni pelan.
"Ayo ikut ibu keluar." kata Bu Dewi.
Di luar kelas, Bu Dewi menyuruh Toni membersihkan halaman sekolah.
"Toni, bersihkan halaman sekolah, sampai bersih! Sekali-sekali boleh lah kamu menggantikan tugas tukang kebun sekolah kita," kata Bu Dewi.
"B...b...baik, Bu." jawab Toni, dia berbicara seperti itu meski sebenarnya dia tidak suka tugas seperti itu, membersihkan halaman sekolah.
Bel jam pertama sudah berbunyi, Toni belum mengerjakan apapun.
"Hah ??? Bel jam pertama udah bunyi, aku harus cepat-cepat membersihkan halaman ini," kata Toni.
"Aku tidak mau diketawain teman-teman," lanjutnya.
"Huhfft..tak terasa, sudah jam istirahat," kata Toni.
Bu Dewi memanggil Toni.
"Toni,,sini !" panggil Bu Dewi.
"Apa lagi ini dipanggil lagi.." gumam Toni.
"Toni, ikut ke ruang guru," kata Bu Dewi.
"Hah ??? Ruang guru ? Aduh, mau dipermalukan atau apa nih ?" gumam Toni.
Toni mengikuti Bu Dewi menuju ruang guru. Ternyata anak kelas 5 SD ini diberi tugas tambahan.
"Kerjakan soal latihan semester II dari buku paket IPA ini !" kata Bu Dewi.
"Baik, Bu," jawab Toni sedikit kesal.
"Ya sudah, sana kembali ke kelasmu !" kata Bu Dewi menyuruh Toni untuk meninggalkan ruang guru.
Tak terasa bel pulang sudah berbunyi, Toni menghampiri mobilnya dengan wajah kusut.
"Hai, Toni, kok muka kamu kusut gitu sih ?" tanya Ayah Toni.
"Gimana ngga kusut, hukumannya banyak banget, padahal cuma ngga ngerjain PR sedikit," jawab Toni.
"Kamu juga sih, udah tau tugas sedikit, ngga dikerjain, ya udah, ayo pulang." ajak Ayah Toni.
"Ayolah." kata Toni.
Sampai di rumah, Toni melakukan kebiasaannya setelah pulang sekolah, lepas sepatu, agnti baju, sholat dzuhur, makan siang sambil nonton televisi. Setelah makan, dia mendekati kakaknya yang sedang main Play Station, dia mau ikutan main. Ups...apa dia lupa dengan tugas tambahannya ???
Benar saja, dia dan kakaknya main Play Station sampai sore, jadi dia tidak sempat tidur siang, karenanya itu membuat dia mengantuk, sebelum tidur dia mandi sore dan sholat ashar, lalu dia menuju kamarnya, untuk beristirahat, sebelumnya dia menyiapkan buku paket IPA, dai pikir, nanti dia akan bangun. Eh, ternyata dia baru bangun saat sudah pagi. Bagaimana dengan tugasnya ???
"Hoahmm....segar sekali bangun tidur..sudah pagi..Hah ?? Sudah pagi ? Aduh aku belum mengerjakan tugas itu ! Gimana ini ?" kata Toni setelah dia terbangun.
Ibunya sudah teriak-teriak di depan pintu kamar Toni (pintu kamar tertutup), menyuruh Toni bangun, dan siap-saip berangkat sekolah, tapi Toni tidak menjawab panggilan itu, dia pura-pura tidur.
"Ah, aku pura-pura sakit aja, dan aku pura-pura belum bangun..tapi sakit apa ya ? Ah, sakit perut !" Toni mendapat ide.
Akhirnya Toni pura-pura belum bangun tidur. Akhirnya Ibu Toni tidak sabar dan membuka pintu kamar Toni yang ternyata tidak dikunci. Melihat Toni yang meringkel dan wajah Toni yang seperti kesakitan sambil tangannya memegang perut, Ibu Toni langsung menanyakan keadaan Toni.
"Toni, kamu kenapa ? Perut kamu sakit ?" tanya Ibu Toni. Toni hanya mengangguk.
"Ya sudah, kalau perut kamu benar-benar sakit, kamu tidak usah masuk sekolah dulu, nanti ke dokter ya, periksakan perutmu," kata Ibu Toni.
"Ah, ngga usah ke dokter, Bu. Nanti kalau udah makan banyak sama minum obat sakit perut yang ada di kotak obat, paling sembuh." kata Toni, Toni sebenarnya takut ketahuan kalau dirinya berbohong.
"Baiklah, ibu belikan bubur ayam ya," kata Ibu Toni. Toni mengangguk.
Siangnya, setelah dia makan siang, tiba-tiba terlintas pikiran bahwa dirinya ingin berubah.
"Huh, kejadian apa yang terjadi di sekolah tadi ya ? Ternyata di rumah saja tidak enak. Akan aku kerjakan tugas tambahan itu." katanya dalam hati.
Dia langsung ke kamarnya dan mengerjakan tugasnya.
Sorenya, terdengar suara telepon. Ternyata salah satu temannya menelpon.
"Hallo, assalamualaikum." terdengar suara orang di seberang sana.
"Waalaikumsalam." jawab Toni.
"Apa ini Toni ? Saya Riko," jawab orang di seberang sana yang ternyata Riko.
"Eh, Riko. Tumben telpon," kata Toni.
"Iya, eh tadi kamu ditanyain sama Bu Dewi, beliau titip pesan ke aku, kamu harus cepat kumpulkan tugas tambahanmu. Tugas tambahan apa lagi sih ?" tanya Riko.
"Ehm, ya kamu tau lah." jawab Toni.
"Oh, ya sudah terserah kamu saja. Eh, tadi kamu ngga masuk sekolah kenapa ?" tanya Riko.
"Aku sakit perut," jawab Toni.
"Oh, ya udah ya, assalamualaikum." kata Riko.
"Waalaikumsalam." jawab Toni.
Setelah menerima telepon, Toni melanjutkan mengerjakan tugasnya. Dia betul-betul semangat dan niat. Jadi dia tidak perlu waktu lama untuk mengerjakan soal itu, hanya perlu 2 jam untuk menyelesaikannya.
Esoknya, Toni berangkat sekolah seperti biasa. Tapi yang lain dari Toni, dia lebih rapi dan yang pasti dia tidak murung lagi, dia tersenyum dan terasa lega, karena sudah mengerjakan tugas tambahannya, dia yakin jawabannya hanya sedikit yang salah.
Jam istirahat pertama, dia menemui Bu Dewi di ruang guru, dia menyerahkan hasil kerjanya.
"Baik, akan ibu koreksi dan ibu beritahu hasilnya kalau ada pelajaran IPA di kelasmu," kata Bu Dewi setelah menerima hasil kerja Toni.
Tiba saatnya jam pelajaran IPA di kelas Toni. Toni tenang tapi juga cemas. Bagaimana hasilnya ???
"Toni, sini ke depan." perintah Bu Dewi. Sesuai perintah, Toni langsung ke depan menghadap Bu Dewi.
"Toni, ibu kagum. Selama ini kamu tidak pernah mengerjakan tugas rumah, tapi kali ini kamu mengerjakan semua tugas dengan.....GOOD JOB !" kata Bu Dewi. Seisi kelas terkejut mendengarnya.
"Kamu hanya salah 6 dalam mengerjakan soal-soal itu." lanjut Bu Dewi. Toni dan teman-temannya terkejut.
"Waw...hebat !" kata Riko.
"Ini semua karena kerja keras Toni dan dia juga sudah malu jika dihukum terus." kata Bu Dewi.
"Hehehe..." Toni malah ketawa.
Setelah semua ini, Toni berjanji, dia akan mengerjakn tugasnya semaksimal mungkin, dia akan berusaha sekuat tenaga dan menjadi juara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar